Regional

Komandan Operasi OPM Manfret Fatem dan Dua Anggotanya Dilaporkan Tewas di Maybrat

MAYBRAT — Komandan Operasi Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap IV/Sorong Raya, Manfret Fatem, bersama dua orang lainnya dilaporkan tewas dalam kontak senjata dengan personel gabungan TNI di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, Jumat, 9 Oktober 2026.

Menurut Komando Operasi TNI Habema, baku tembak terjadi sekitar pukul 08.25 WIT di kawasan hutan sebelah utara Kampung Kamat, Distrik Aifat Timur. Insiden bermula ketika Tim Patroli Gabungan Denkul 4/Satgas Rajawali V dan Satgas Yonif 9 Marinir melaksanakan operasi patroli penindakan terhadap kelompok bersenjata pimpinan Manfret Fatem.

Panglima Komando Operasi TNI Habema Brigadir Jenderal TNI Riyanto mengatakan pemeriksaan awal di lapangan mengidentifikasi salah satu korban sebagai Manfret Fatem. Namun, identitas dua korban lainnya masih dalam proses verifikasi.

Informasi awal menyebut kedua orang tersebut diduga Yesias Fatem, yang disebut menjabat Komandan Batalyon Mosata, dan Antonius Assem alias Anton Fatem, yang diduga merupakan Komandan Batalyon Ayosami. TNI menegaskan identitas serta keterkaitan keduanya dengan struktur OPM belum dinyatakan final.

“Proses verifikasi masih berlangsung untuk memastikan identitas dan keterkaitan kedua korban tersebut,” kata Riyanto dalam keterangan resminya.

Tidak ada personel TNI yang dilaporkan menjadi korban dalam kontak senjata tersebut. Seusai baku tembak, pasukan gabungan mengamankan lokasi dan melakukan pemantauan guna mengantisipasi serangan susulan.

Dari tempat kejadian, aparat menemukan satu pucuk senjata api jenis AK-101, 30 butir amunisi kaliber 5,56 milimeter, amunisi kaliber 9 milimeter, dan dua telepon seluler. TNI juga menyita bendera Bintang Kejora, dokumen OPM, atribut kelompok, serta sejumlah perlengkapan lainnya.

Temuan senjata dan amunisi tersebut, menurut TNI, memperkuat dugaan bahwa kelompok Manfret masih memiliki kemampuan melakukan serangan bersenjata. Aparat menyebut operasi dilakukan untuk mencegah ancaman terhadap warga, petugas keamanan, dan pelayanan publik di Maybrat.

Rekam Jejak Kekerasan

Nama Manfret Fatem sebelumnya tercantum dalam daftar pencarian orang yang diterbitkan Polda Papua Barat. Pada 2021, kepolisian menyatakan Manfret menjadi buronan dalam dua perkara pembunuhan, yakni kematian seorang anggota Brimob di Kabupaten Teluk Bintuni serta pembunuhan dua warga sipil di Kabupaten Maybrat pada 2020. Status tersebut merupakan keterangan kepolisian dan bukan pengganti putusan pengadilan.

Kelompok pimpinan Manfret juga terlibat kontak senjata dengan TNI di Distrik Aifat pada 3 Oktober 2026. Dalam peristiwa itu, dua pimpinan kelompok, Arso Aisnak dan Yohanes Ky, dilaporkan tewas, sedangkan Manfret disebut melarikan diri ke dalam hutan bersama sejumlah anggotanya.

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto ketika itu mengaitkan kelompok tersebut dengan dugaan pembunuhan, penganiayaan, perampokan, dan kekerasan seksual. Deretan dugaan kekerasan itu menunjukkan beratnya ancaman yang dihadapi masyarakat apabila terbukti, terutama karena warga sipil kerap menjadi pihak paling rentan dalam konflik bersenjata.

Namun, seluruh tuduhan tersebut tetap harus ditempatkan sebagai pernyataan aparat sepanjang belum diuji melalui proses hukum. TNI juga menyatakan setiap tindakan terhadap kelompok bersenjata dilaksanakan secara terukur dan profesional dengan mengacu pada hukum, aturan pelibatan, serta prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Riyanto mengatakan operasi keamanan akan dibarengi dialog, pembinaan teritorial, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat. Langkah tersebut diperlukan agar kegiatan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan perekonomian masyarakat dapat berjalan tanpa teror maupun gangguan kelompok bersenjata.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan dari pihak TPNPB-OPM maupun keluarga mengenai laporan kematian Manfret Fatem dan dua orang lainnya. Belum tersedia pula hasil pemeriksaan independen atas kronologi kontak senjata tersebut. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan akan memperbarui pemberitaan setelah proses identifikasi serta verifikasi selesai.