Regional

Dua Orang KKB Dilaporkan Tewas di Kali Kolof Yahukimo, Senjata Rakitan dan Amunisi Ditemukan

YAHUKIMO — Dua orang yang disebut sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) dilaporkan tewas dalam dugaan kontak senjata dengan aparat keamanan di kawasan Kali Kolof, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Jumat pagi, 9 Oktober 2026.

Informasi mengenai peristiwa tersebut pertama kali diberitakan media lokal Fajar Papua pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Laporan itu menyebut kedua orang tersebut tewas ketika terjadi kontak tembak antara personel TNI dan kelompok bersenjata di wilayah Yahukimo.

Meski demikian, belum tersedia keterangan resmi yang memadai mengenai waktu pasti kejadian, satuan yang terlibat, penyebab kontak senjata, pihak yang lebih dahulu melepaskan tembakan, ataupun durasi baku tembak. Identitas kedua korban juga belum diumumkan secara terbuka.

Karena itu, penyebutan kedua korban sebagai anggota OPM masih harus diperlakukan sebagai informasi awal yang memerlukan verifikasi lebih lanjut. Belum ada data pendukung yang cukup untuk memastikan kedudukan, peran, ataupun keterlibatan kedua korban dalam jaringan kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Senjata Rakitan dan Empat Butir Amunisi Ditemukan

Berdasarkan laporan media lokal tersebut, aparat menemukan satu pucuk senjata api rakitan jenis pistol dan empat butir amunisi di sekitar lokasi kejadian. Temuan senjata dan amunisi mengindikasikan adanya aktivitas bersenjata, tetapi kepemilikan serta keterkaitannya dengan kedua korban masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan balistik dan penyelidikan resmi.

Sejumlah barang lain turut dilaporkan ditemukan, yaitu satu telepon genggam, satu alat komunikasi handy talky (HT), dua noken, emas seberat sekitar dua gram, uang tunai Rp300.000, serta dua kartu tanda penduduk.

Aparat juga disebut mengamankan satu parang, empat baterai, satu senter, satu korek api, tiga bungkus tembakau, dan satu balsem. Belum dijelaskan apakah seluruh barang tersebut ditemukan melekat pada tubuh korban, berada di tempat tertentu di lokasi kejadian, atau merupakan milik pihak lain.

Dua jenazah selanjutnya dilaporkan dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah Dekai untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Sampai berita ini diterbitkan, hasil identifikasi medis maupun pemeriksaan forensik belum diumumkan.

Temuan dua kartu identitas juga belum dapat langsung dijadikan dasar untuk menentukan identitas korban. Aparat perlu mencocokkan dokumen tersebut dengan pemeriksaan fisik, data kependudukan, keterangan keluarga, dan hasil pemeriksaan forensik.

Kali Kolof Pernah Menjadi Lokasi Penemuan Korban Kekejaman OPM

Kali Kolof sebelumnya menjadi salah satu lokasi yang terkait dengan kekerasan bersenjata terhadap warga sipil. Pada Juli 2026, TNI mengevakuasi jenazah Teina Alya, salah seorang dari tiga warga sipil yang menurut aparat dibunuh kelompok OPM pimpinan Kopitua Heluka di Jalan Trans Papua, Distrik Seradala.

Jenazah Teina ditemukan di dasar longsoran Kali Kolof dengan kedalaman sekitar 50 meter dan berjarak sekitar 100 meter dari lokasi penembakan. TNI ketika itu menduga posisi jenazah tersebut mengindikasikan adanya upaya kelompok bersenjata untuk menyembunyikan tubuh korban.

Peristiwa itu memperlihatkan dampak kejam konflik bersenjata terhadap masyarakat Yahukimo. Warga sipil bukan hanya menghadapi ancaman penembakan dan pembunuhan, melainkan juga kesulitan evakuasi akibat medan terjal serta risiko serangan susulan.

Namun, belum ada bukti yang dipublikasikan untuk menghubungkan dua orang yang tewas pada 9 Oktober dengan pembunuhan Teina Alya dan dua warga lainnya. Kedua peristiwa tersebut harus dipisahkan sampai aparat menemukan bukti hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kronologi dan Identitas Harus Dibuka

Keterangan resmi diperlukan untuk memastikan apakah benar terjadi kontak senjata, bagaimana tahapan operasi dilaksanakan, serta apakah aparat telah menjalankan prosedur dan aturan pelibatan yang berlaku. Pemeriksaan senjata, selongsong, proyektil, telepon genggam, dan alat komunikasi juga diperlukan untuk mengungkap jaringan serta aktivitas kedua korban.

Transparansi menjadi penting karena peristiwa ini menyangkut hilangnya nyawa manusia. Di sisi lain, keberadaan senjata rakitan dan amunisi tidak boleh diabaikan karena dapat menunjukkan ancaman nyata terhadap keselamatan warga serta aparat di Yahukimo.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan langsung dari TNI, Polri, RSUD Dekai, keluarga korban, maupun pihak TPNPB-OPM mengenai identitas dan kronologi peristiwa tersebut. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab serta akan memperbarui pemberitaan setelah memperoleh konfirmasi resmi dan bukti pendukung.