Regional

KKB Tewaskan Wili Mbuik, Keluarga Minta Warga Rote Ndao di Papua Dilindungi

ROTE NDAO — Kematian Wili Mbuik dalam penembakan di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, menyisakan kekhawatiran mendalam bagi keluarganya di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Keluarga meminta pemerintah memberikan jaminan keamanan kepada warga asal Rote Ndao dan NTT yang masih bekerja maupun mengabdi di wilayah tersebut.

Permintaan itu disampaikan setelah Wili, pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, meninggal akibat luka tembak saat menjalankan tugas pelayanan publik bersama rombongan dinas pada Rabu, 9 September 2026. Dua rekannya, Aprida Rapi’ dan Alfonsius Albinus Mehan, juga meninggal dalam serangan tersebut.

Perwakilan keluarga Wili, Eran Sipa, mengatakan sedikitnya empat hingga lima warga asal Rote Ndao yang berasal dari kampung yang sama dengan Wili masih berada di Jayawijaya. Keluarga mengaku semakin khawatir karena mereka disebut sedang menghadapi situasi keamanan yang tidak kondusif.

Menurut Eran, warga tersebut sempat menghubungi keluarga dan mengabarkan bahwa mereka merasa terancam serta tidak leluasa keluar dari tempat tinggal. Mereka kemudian mencari perlindungan di rumah seorang pendeta setempat.

“Kami keluarga ingin menyampaikan kepada Bapak Wakil Gubernur bahwa masih ada empat hingga lima orang anak kami yang satu kampung masih berada di sana,” kata Eran sebagaimana dikutip ANTARA.

Keluarga berharap tragedi yang menimpa Wili menjadi korban terakhir. Mereka meminta pemerintah bersama aparat keamanan memberikan perlindungan maksimal kepada warga sipil, termasuk para perantau dan ASN yang menjalankan pelayanan masyarakat di wilayah rawan konflik Papua.

Kekhawatiran keluarga muncul setelah Wili dan dua rekannya menjadi korban penembakan ketika pulang dari kegiatan kedinasan di Distrik Muliama.

Berdasarkan keterangan Operasi Damai Cartenz, rombongan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang berjumlah 11 orang sebelumnya menjalankan kegiatan pelayanan pertanian dan peternakan. Mereka antara lain memberikan bantuan ternak, mengecek lahan cetak sawah, serta melakukan penyuluhan kepada masyarakat.

Sekitar pukul 15.53 WIT, kendaraan rombongan diduga diadang kelompok bersenjata ketika dalam perjalanan kembali menuju Wamena.

Serangan tersebut menewaskan Aprida Rapi’ dan Alfonsius Albinus Mehan. Wili mengalami luka tembak dan sempat dilarikan ke RSUD Wamena sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.

Kepolisian menyatakan penyelidikan awal mengarah pada dugaan keterlibatan kelompok bersenjata dari wilayah Nduga. Namun, aparat tetap melakukan pendalaman untuk memastikan identitas orang-orang yang terlibat dan pihak yang bertanggung jawab atas penembakan tersebut.

Fakta bahwa para korban sedang melaksanakan pelayanan pertanian bagi masyarakat menjadi perhatian Pemerintah Provinsi NTT. Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyebut Wili bersama rekan-rekannya datang ke Muliama untuk menjalankan tugas pelayanan publik, bukan untuk terlibat dalam konflik bersenjata.

Wili kemudian dimakamkan secara kedinasan di Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, pada Minggu, 13 September 2026. Prosesi tersebut dihadiri keluarga, masyarakat, serta unsur pemerintah daerah.

Tragedi itu juga mendorong keluarga meminta perhatian terhadap ASN asal Rote Ndao yang masih bekerja di daerah rawan konflik.

Bupati Rote Ndao Paulus Henuk menyatakan pemerintah daerah siap membantu apabila terdapat ASN asal Rote yang bertugas di Papua Pegunungan dan ingin mengajukan perpindahan karena pertimbangan keamanan. Pemkab Rote Ndao berencana berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi terkait kemungkinan tersebut.

Menurut Paulus, perlindungan terhadap aparatur yang bertugas di daerah rawan perlu mendapat perhatian khusus. Ia juga meminta aparat mengusut tuntas penembakan yang menewaskan Wili dan dua rekannya serta menangkap pihak yang bertanggung jawab.

Kematian tiga pegawai Dinas Pertanian itu memperlihatkan dampak serius kekerasan bersenjata terhadap warga yang menjalankan pelayanan publik di Papua. Para korban bukan personel bersenjata. Mereka berada di Muliama untuk menjalankan program pertanian dan peternakan yang ditujukan kepada masyarakat setempat.

Bagi keluarga Wili di Rote Ndao, kehilangan tersebut tidak berhenti pada suasana duka. Rasa takut kini menyelimuti keluarga lain yang anggota keluarganya masih bekerja di Papua Pegunungan.

Permintaan perlindungan itu menjadi pengingat bahwa konflik bersenjata tidak hanya berdampak terhadap aparat keamanan dan kelompok bersenjata, tetapi juga dapat mengancam pegawai pemerintah, pekerja, perantau, serta masyarakat yang tidak terlibat dalam pertempuran.

Karena itu, jaminan keselamatan warga sipil serta penegakan hukum terhadap pelaku kekerasan menjadi kebutuhan penting agar tragedi seperti yang menimpa Wili Mbuik, Aprida Rapi’, dan Alfonsius Albinus Mehan tidak kembali terulang.